ManiakMotor- Tunner papan atas Indonesia, Ibnu Sambodo alias Pakde membuka kursus mekanik khusus balap. Ilmunya yang pernah berhasil menyuntik Yamaha, Suzuki dan sekarang Kawasaki akan didikasikan bagi yang mau belajar. Tidak peduli status pendidikkannya, lulusan TK juga diterima. Tentu saja bayar, brosist Program kursus ini tidak mengikat alias diajari sampai mahir. Pembayarannya []
Rutinnyagelaran yang di helat VSC juga banyak melahirkan mekanik - mekanik handal seperti Ibnu sambodo , Gandoel , Merit dan lain - lain . Read More. 28.1.15. INDIKASI KERUSAKAN SOCKBREKER MATIK & HARGA KOMPONEN. Buat kawasaki ninja 150 R bisa caplok CDI Denso Jepang dengan kode 2119 - 1454 CDI ini nggak sembarangan karena ini khusus
Durabilitas selalu jadi momok dan itu membuat kebanyakan mekanik memakai kompresi rendah. Dengan tujuan agar mesin Blade kuat digeber sampai balapan berakhir. Terbukti sanggup melawan Z1 yang ada campur tangan teknisi dari Yamaha Jepang. Sementara Blade Honda Daya ini murni korekan mekanik lokal, yakni digarap Suhartanto 'Kupret
Australia dan Jepang sudah resmi membatalkan event balap MotoGP. Bahkan Olympiade Tokyo diundur 2021. China juga sulit karena banyak event besar di batalkan, termasuk MXGP China dibatalkan. Mereka memang sedang serius menangani Virus Covid-19, "tambah Ibnu Sambodo yang juga merangkap Chief-Mechanic dan bermarkas di Sleman, Yogyakarta.
Karena itu kan jaminan otak dan kualitas mekanik dipertaruhkan," jelas ibnu sambodo, begawan 4-tak manual tech jogja. Yang sulit diraba perkiraan minimalnya. Nah, tinggal hitung sendiri mana yang bisa ditekan atau diganti tentu sesuai jenis atau merek motor, selera, mekanik yang dipilih dan tentu isi kantong. Sumber : ManiakMotor.com
umMbSt. Perawakannya kecil, penampilannya juga biasa saja. Tapi jangan anggap enteng kemampuan lelaki bernama Ibnu Sambodo tersebut. Dari tangannya telah lahir mesin-mesin hebat dengan setumpuk prestasi di dunia balap motor. Tak cuma di tingkat nasional, Ibnu juga kerap mengharumkan nama Indonesia di pentas balapan Asia. Salah satunya, motor Kawasaki Blitz hasil oprekannya berhasil memenangi race pertama kelas 110cc di Seri 1 FIM Asian GP yang digelar di sirkuit Sepang, Malaysia, April 2009. Catatan prestasi Ibnu akan lebih panjang lagi bila ditarik ke belakang. Bersama tim waktu itu Suzuki Manual Tech yang ia komandani, beberapa kali pembalap-pembalapnya naik podium. Juni 2008, motor oprekannya mengukir dua rekor fastest lap sekaligus di sirkuit Sentul. Satu di kategori superpool dengan catatan 1 menit 57,2 detik, dan satu lagi di kategori qualification time trial QTT dengan catatan 1 menit 57,76 detik. Setelah bermitra dengan Suzuki sejak tahun 2000, mulai 2009 Manual Tech digandeng Kawasaki. Praktis ini menjadi debut pertama Ibnu menangani mesin dari pabrikan berbeda. Dan ia langsung membuktikan kepiawaiannya dalam meracik mesin motor. Selain satu gelar di Sepang, sekali lagi Ibnu menaklukkan sirkuit Sentul dengan memecahkan rekor fastest lap di kategori QTT. Kawasaki Athlete 125cc hasil oprekannya sukses mengantarkan pembalap andalannya, Hadi Wijaya, menorehkan catatan rekor 1 menit 57,657 detik. Hadi bahkan nyaris memenangi lomba kalau saja tidak mengalami gangguan mesin di lap terakhir. Dengan deretan prestasinya itulah Ibnu lantas disebut-sebut sebagai begawan motor 4 tak Indonesia. Ia sangat piawai memodifikasi motor agar bisa berlari kencang di atas lintasan balap. Lelaki yang akrab dipanggil Pakdhe ini bahkan disejajarkan dengan Jeremy Burgess, tuner kondang kelahiran Australia yang telah mengantarkan tiga juara dunia MotoGP termasuk Valentino Rossi. Pasalnya, tak peduli motor merek apa yang dioprek, baik Ibnu maupun Burgess selalu berhasil mengantarkan pembalapnya menang. Dari keluarga guruTiga kali menorehkan rekor fastest lap di Sentul dengan dua pabrikan berbeda rasanya cukup untuk menggambarkan kehebatan seorang Ibnu Sambodo di dunia otak-atik motor. Tapi siapa sangka lelaki kelahiran 23 Mei 1974 ini justru berasal dari keluarga guru. “Mungkin darah mekanik saya berasal dari kakek. Kakek saya dulu pembuat alat penangkap ikan,” cerita Ibnu ketika saya temui di rumahnya pada 30 Mei 2009 dalam rangka liputan untuk Harian Jogja. Meski hidup di keluarga guru, namun Ibnu sudah akrab dengan dunia mekanik sejak kecil. Bila teman-teman sebayanya suka membeli mainan, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini memilih membuat sendiri. Ia semakin akrab dengan dunia mekanik ketika akhirnya masuk ke jurusan teknik elektro UGM di tahun 1992. Sayang, penghasilan orang tuanya yang pas-pasan tak mampu menyokong kuliah Ibnu secara penuh. Alumnus SMA 3 Solo inipun berinisiatif mencari tambahan uang saku dengan menawarkan jasa servis motor. Pelanggan pertamanya adalah teman-teman kosnya sendiri. Yang menarik, waktu itu Ibnu malah belum punya motor sendiri. “Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor,” katanya sambil tak pilih-pilih pelanggan. Ia juga tak pilih-pilih bayaran. Mau dibayar dengan uang oke, hanya diberi nasi bungkus juga ia terima. Alhasil, pelanggannya semakin banyak. Halaman kamar kosnya berubah jadi bengkel dadakan. Tentu saja hal ini menuai protes dari penghuni kos lain karena merasa terganggu. Ibnu Sambodo foto ekoMendirikan Manual TechTerlalu asyik dengan bengkelnya membuat kuliah Ibnu keteteran. Lelaki yang semasa SMP pernah menjadi pelajar terbaik se-Kabupaten Wonogiri ini akhirnya memilih keluar dari kampus. “Mungkin saya memang tidak cocok di dunia akademis. Saya cocoknya di dunia praktis,” ujarnya coba memberi alasan. Namun Ibnu tak mengingkari jika biaya menjadi alasan utama dalam pengambilan keputusan tersebut. Tak lama setelah itu, Ibnu mulai mengenal dunia balapan. Perkenalan tersebut boleh dibilang tidak disengaja. Kebetulan waktu itu salah seorang tetangga kosnya hobi balap motor dan Ibnu dipercaya mengotak-atik motor tunggangannya. Jadilah Ibnu semacam mekanik tak resmi dari tetangga kosnya tersebut. Seiring berjalannya waktu, kepiawaian Ibnu mengoprek motor semakin meningkat. Motor-motor yang ia pegang selalu menjadi yang tercepat. Namanya lantas semakin dikenal sebagai mekanik andal di kalangan pembalap. Sadar akan potensi yang ia miliki, Ibnu kemudian mendirikan tim mekanik yang ia namai Manual Tech. Di bawah bendera tim inilah Ibnu menjual jasa otak-atik motor kepada para pembalap. Dan hasil di atas lintasan menunjukkan betapa motor-motor oprekan Ibnu selalu dominan. Kecemerlangan Ibnu dan Manual Tech-nya memikat hati sponsor, di antaranya Suzuki. Pabrikan asal Jepang ini berniat mengajak Ibnu bekerja sama membentuk tim balap. Ibnu setuju. Maka lahirlah Suzuki Manual Tech yang mulai ikut balapan di musim 2000. Sepanjang 2000-2008, Suzuki berhasil mendominasi seluruh ajang yang diikutinya kendati tak selalu jadi juara. “Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor.”–Ibnu Sambodo–Kini, bersama Kawasaki Ibnu tak memasang target muluk-muluk. Namun ia menegaskan kalau dirinya selalu berkeinginan untuk menjadi semakin baik dari tahun ke tahun. “Semua itu kan butuh proses, tidak ada hasil yang instan,” katanya mencoba berfilsafat. Ketika ditanya apa rahasianya sehingga bisa merajai dunia otak-atik motor, Ibnu hanya tersenyum. Lelaki beristri dokter ini kemudian bercerita, ia sudah suka membaca segala referensi seputar mesin sejak masih SD. Karena itu ia bisa menguasai seluk-beluk mesin dan fungsi masing-masing komponennya. “Saya belajar mesin bukan hanya pada kulit yang nampak, tapi juga bagaimana sebuah proses mekanik terjadi. Ini yang tidak dilakukan mekanik lain,” tambahnya. Di akhir pembicaraan, Ibnu menyampaikan harapannya pada dunia balap nasional. Ia berpendapat, sudah saatnya Indonesia mulai merintis ajang-ajang balap supersport. Selama ini yang ada hanya balapan motor bebek. Akibatnya pembalap nasional sukar menembus ajang balapan yang lebih bergengsi di tingkat internasional semacam MotoGP. “Contohnya Doni Tata. Karena di sini terbiasa balapan pakai motor bebek, begitu masuk GP ya keteteran,” pungkasnya. Untuk menularkan keahliannya mengoprek motor, Ibnu membuka sekolah mekanik yang diberi nama Manual Tech Course. Dengan sekolah ini Ibnu berharap dapat melahirkan banyak engine builder di Indonesia. Berbeda dengan mekanik biasa, engine builder bisa merancang, menganalisa, sekaligus mengembangkan mesin garapan mereka sendiri. Semoga harapan Pakdhe Ibnu Sambodo segera tercapai.
Details Category BALAP NASIONAL 19 Jan 2015 Hits 279 IBNU SAMBODO. Kita akan disupport pabrik mur-baut titanium asal Jepang Kabar spesial sekaligus menggembirakan bagi tim Manual Tech Kawasaki yang memang menjadi yang terbaik di balap Supersports 600 untuk semua rider Indonesia yang ambil bagian di Asia Road Racing Championship ARRC.Sampai di sini, informasi diatas betul adanya, bro dan sista. Bukan karang-karangan. Mau buktikan ? Silahkan buka web Masuk ke result 2014 kelas Supersports 600. Pasti tertera klasemen akhirnya. HA Yudhistira berada di urutan ke VII. Terbaik diantara pembalap Indonesia lainnya. Kembali ke kabar spesial di atas. Jadi pasukan yang dikomandoi Ibnu Sambodo selaku pemilik tim ini mendapat sponsor baru dari Jepang. Yaitu pabrik mur-baut titanium B-Titanium asal Jepang. Makin mantap, orang Jepangnya alias kerap diseput Jepun yaitu Mr. Tetsuaki Matsuyama langsung datang ke bengkel Manual Tech di Jl. Kaliurang Km. 8,4 Sleman Yogyakarta. Alhasil, begitu terlihat keseriusan mereka. Nah, portal sekaligus tabloid ototrend mendapat telepon langsung dari Ibnu Sambodo pada Senin malam 19 Jan sekitar pukul ntuk mengabarkan hal ini. Pastinya ini updates berita pertama.“Mereka melihat kita dan pastinya berprestasi. Kemudian datang bertemu saat balap Asia Road Race 2014 di Thailand. Tahun ini mereka support tim kita. Menurut rencana, produk mereka mur-baut yang berbahan titanium akan masuk juga ke pasar Indonesia. Bahkan akan lebih fokus ke kudabesi bebek ketimbang Supersports 600, “terang Pak De, sapaan akrab dari Ibnu Sambodo yang beberapa waktu lalu mencatatkan HA Yudhistira sebagai pembalap dengan kontrak termahal se Indonesia dengan nilai 500 juta/tahun. ogy
No credit No caption Ibnu Sambodo sukses mengantar Kawasaki dan Hadi Wijaya menjadi juara Asia. Kuncinya, hanya dengan ilmu fisika dasar yang membalik logika pemikiran yang biasa diterapkan oleh banyak mekanik di jadi logika umum, balap di udara bertemperatur rendah, mekanik selalu utak-atik karburator. Makin rendah temperatur,maka campuran bahan bakar dibikin sekering sebaliknya, bila temperatur panas, maka bahan bakar dibikin kaya. Dengan kata lain dibikin boros. Agar mesin tidak kepanasan dan meleduk akibat overheat. Duaarr...Nah, logika inilah yang dibalik oleh Pakde, sapaan akrab Ibnu. Menurutnya, bermain di Qatar yang dipentas malam hari dengan suhu udara 22 derajat celcius , campuran bahan bakar malah dibikin kaya. Lebih kaya daripada seri Sentul yang dihelat siang hari dengan suhu 28-31 derajat celsius. Di Qatar, jetting Kawasaki Edge yang berkarburator Mikuni 24 ini diisi dengan perbandingan 240/35. Padahal, saat di Sentul yang bersuhu terik cuma menggunakan spuyer 200/ simpel. “Ini bukan melawan logika berfikir. Tapi, saya hanya menggunakan ilmu fisika,” tegas pemilik tim Manual Tech ini. Jelasnya begini. Untuk menghasilkan kinerja mesin mesin yang kuat, ada dua hal yang diperlukan dalam hal pendinginan. Yang pertama, pendinginan untuk mengantisispasi panas mesin, dan pendinginan untuk mengatisipasi temperatur udara. No credit No caption Di Qatar yang bermain malam hari, memerlukan bahan bakar lebih banyak. Logikanya simpel, sama seperti kenapa kita memerlukan choke untuk menghidupkan motor di pagi hari. Makin dingin temperature udara di luar, makin butuh campuran bahan bakar dan udara lebih kenapa Ibnu selalu membawa alat yang berjuluk thermo hydro. Alat ini untuk mengatahui suhu, kelembaban udara dan juga arah dan kecepatan angin. Setelah sampai di negara tempat balapan berlangsung. Tidak lupa membuka website ramalan cuaca untuk mengetahui cuaca setempat. Setelah itu baru deh dicocokkan dengan alat canggih sini, akan terlihat patokan setingan. Apalagi Qatar baru pertama dipakai balapan bebek, sehingga tidak ada data rujukan. Dari data cuaca itu baru akhirnya diketahui, ”Bahwa kelebaban dan temperaturya mirip dengan balap di Cina. Makanya, seting jetting yang dipakai tidak jauh dengan Cina,” tambah pria yang tidak banyak omong dan arah angin, diperlukan dalam seting gir. Apakah angin searah trek lurus Qatar yang berjarak meter ataukah berlawanan. Bila searah, maka bisa menggunakan perbandingan gir lebih berat. Tapi, bila berlawanan, menggunakan gir lebih pengukuran, diketahui arah angin berkecepatan 15 km/jam dan berlawan dengan trek lurus. Ibnu pun menggunakan perbandingan gir 15/ dua hal ini saja yang diutakatik. Selebihnya sama saja dengan seri sebelumnya."Karena keterbatasan waktu dan masih buta dengan kondisi sirkuit, makanya tidak ada perubahan besar di dalam engine. Dan bila terlalu bereksperimen, takutnya malah jadi berbahaya," khawatir selisih poin antara Hadi Wijaya dan Denny Triyugokurang hanya 5 poin. Kesempatan Hadi Wijaya merebut juara, ya hanya di seri final ini. Makanya, durasi kem tetap dipatok 274 derajat pada lift 1 mm. Sementara klep masih mengandalakan ukuran 27,2 dan 23,2 ilmu fisika, Hadi pun sukses menjadi juara Asia. MODIFIKASI CDI RextorKarburator Mikuni 24Klep 27,2 dan 23,2Spuyer 240/35Gir 15/37
Perawakannya kecil,penampilannya juga biasa saja. Tapi jangan anggap enteng kemampuan lelaki bernama Ibnu Sambodo tersebut. Dari tangannya telah lahir mesin-mesin hebat dengan setumpuk prestasi di dunia balap motor. Tak cuma di tingkat nasional, Ibnu juga kerap mengharumkan nama Indonesia di pentas balapan Asia. Salah satunya, motor Kawasaki Blitz hasil oprekannya berhasil memenangi race pertama kelas 110cc di Seri 1 FIM Asian GP yang digelar di sirkuit Sepang, Malaysia,April 2009. Catatan prestasi Ibnu akan lebih panjang lagi bila ditarik ke belakang. Bersama tim waktu itu Suzuki Manual Tech yang ia komandani,beberapa kali pembalap-pembalapnya naik podium. Juni 2008, motor oprekannya mengukir dua rekor fastest lap sekaligus di sirkuit Sentul. Satu di kategori superpool dengan catatan 1 menit 57,2 detik, dan satu lagi di kategori qualification time trial QTT dengan catatan 1 menit 57,76 detik. Setelah bermitra dengan Suzuki sejak tahun 2000, mulai 2009 Manual Tech digandeng Kawasaki. Praktis ini menjadi debut pertama Ibnu menangani mesin dari pabrikan berbeda. Dan ia langsung membuktikan kepiawaiannya dalam meracik mesin motor. Selain satu gelar di Sepang, sekali lagi Ibnu menaklukkan sirkuit Sentul dengan memecahkan rekor fastest lap di kategori QTT. Kawasaki Athlete 125cc hasil oprekannya sukses mengantarkan pembalap andalannya, Hadi Wijaya, menorehkan catatan rekor 1 menit 57,657 detik. Hadi bahkan nyaris memenangi lomba kalau saja tidak mengalami gangguan mesin di lap terakhir. Dengan deretan prestasinya itulah Ibnu lantas disebut-sebut sebagai begawan motor 4 tak Indonesia. Ia sangat piawai memodifikasi motor agar bisa berlari kencang di atas lintasan balap. Lelaki yang akrab dipanggil Pakdhe ini bahkan disejajarkan dengan Jeremy Burgess , tuner kondang kelahiran Australia yang telah mengantarkan tiga juara dunia MotoGP termasuk Valentino Rossi. Pasalnya, tak peduli motor merek apa yang dioprek, baik Ibnu maupun Burgess,selalu berhasil mengantarkan pembalapnya menang. Dari keluarga guru,Tiga kali menorehkan rekor fastest lap di Sentul dengan dua pabrikan berbeda rasanya cukup untuk menggambarkan kehebatan seorang Ibnu Sambodo di dunia otak-atik motor. Tapi siapa sangka lelaki kelahiran 23 Mei 1974 ini justru berasal dari keluarga guru. “Mungkin darah mekanik saya berasal dari kakek. Kakek saya dulu pembuat alat penangkap ikan,” cerita Ibnu Meski hidup di keluarga guru, namun Ibnu sudah akrab dengan dunia mekanik sejak kecil. Bila teman-teman sebayanya suka membeli mainan, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini memilih membuat sendiri. Ia semakin akrab dengan dunia mekanik ketika akhirnya masuk ke jurusan teknik elektro UGM di tahun 1992. Sayang, penghasilan orang tuanya yang pas-pasan tak mampu menyokong kuliah Ibnu secara penuh. Alumnus SMA 3 Solo inipun berinisiatif mencari tambahan uang saku dengan menawarkan jasa servis motor. Pelanggan pertamanya adalah teman-teman kosnya sendiri. Yang menarik, waktu itu Ibnu malah belum punya motor sendiri. “Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor,” katanya sambil tersenyum. Ibnu tak pilih-pilih pelanggan. Ia juga tak pilih-pilih bayaran. Mau dibayar dengan uang oke, hanya diberi nasi bungkus juga ia terima. Alhasil, pelanggannya semakin banyak. Halaman kamar kosnya berubah jadi bengkel dadakan. Tentu saja hal ini menuai protes dari penghuni kos lain karena merasa terganggu. Terlalu asyik dengan bengkelnya membuat kuliah Ibnu keteteran. Lelaki yang semasa SMP pernah menjadi pelajar terbaik se-Kabupaten Wonogiri ini akhirnya memilih keluar dari kampus. “Mungkin saya memang tidak cocok di dunia akademis. Saya cocoknya di dunia praktis,” ujarnya coba memberi alasan. Namun Ibnu tak mengingkari jika biaya menjadi alasan utama dalam pengambilan keputusan tersebut. Tak lama setelah itu, Ibnu mulai mengenal dunia balapan. Perkenalan tersebut boleh dibilang tidak disengaja. Kebetulan waktu itu salah seorang tetangga kosnya hobi balap motor dan Ibnu dipercaya mengotak-atik motor tunggangannya. Jadilah Ibnu semacam mekanik tak resmi dari tetangga kosnya tersebut. Seiring berjalannya waktu, kepiawaian Ibnu mengoprek motor semakin meningkat. Motor-motor yang ia pegang selalu menjadi yang tercepat. Namanya lantas semakin dikenal sebagai mekanik andal di kalangan pembalap. Sadar akan potensi yang ia miliki, Ibnu kemudian mendirikan tim mekanik yang ia namai Manual Tech. Di bawah bendera tim inilah Ibnu menjual jasa otak-atik motor kepada para pembalap. Dan hasil di atas lintasan menunjukkan betapa motor-motor oprekan Ibnu selalu dominan. Kecemerlangan Ibnu dan Manual Tech-nya memikat hati sponsor, di antaranya Suzuki. Pabrikan asal Jepang ini berniat mengajak Ibnu bekerja sama membentuk tim setuju. Maka lahirlah Suzuki Manual Tech yang mulai ikut balapan di musim 2000. Sepanjang 2000-2008, Suzuki berhasil mendominasi seluruh ajang yang diikutinya kendati tak selalu jadi juara. “Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor.” –Ibnu Sambodo– Kini, bersama Kawasaki Ibnu tak memasang target muluk-muluk. Namun ia menegaskan kalau dirinya selalu berkeinginan untuk menjadi semakin baik dari tahun ke tahun. “Semua itu kan butuh proses, tidak ada hasil yang instan,” katanya mencoba berfilsafat. Ketika ditanya apa rahasianya sehingga bisa merajai dunia otak-atik motor, Ibnu hanya tersenyum. Lelaki beristri dokter ini kemudian bercerita, ia sudah suka membaca segala referensi seputar mesin sejak masih SD. Karena itu ia bisa menguasai seluk-beluk mesin dan fungsi masing-masing komponennya. “Saya belajar mesin bukan hanya pada kulit yang nampak, tapi juga bagaimana sebuah proses mekanik terjadi. Ini yang tidak dilakukan mekanik lain,” tambahnya. Di akhir pembicaraan, Ibnu menyampaikan harapannya pada dunia balap nasional. Ia berpendapat, sudah saatnya Indonesia mulai merintis ajang-ajang balap supersport . Selama ini yang ada hanya balapan motor bebek. Akibatnya pembalap nasional sukar menembus ajang balapan yang lebih bergengsi di tingkat internasional semacam MotoGP. “Contohnya Doni Tata. Karena di sini terbiasa balapan pakai motor bebek, begitu masuk GP ya keteteran,” pungkasnya. Untuk menularkan keahliannya mengoprek motor, Ibnu membuka sekolah mekanik yang diberi nama Manual Tech Course. Dengan sekolah ini Ibnu berharap dapat melahirkan banyak engine builder di Indonesia. Berbeda dengan mekanik biasa, engine builder bisa merancang, menganalisa, sekaligus mengembangkan mesin garapan mereka sendiri. Semoga harapan Pakdhe Ibnu Sambodo segera tercapai. Rerensi This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.
Berawal dari kikir dan gerinda, sampai ke level asia. Berawal dari kikir dan gerinda, sampai ke level asia. – Jogja. Boleh dibilang ia Founding Fathernya mekanik underbone 4-Tak untuk road race di Indonesia. Motor bebek yang kiranya untuk ibu-ibu ke pasar dibuat untuk bapak-bapak ke arena adu kebut. Sejenak OZ mampir ke bengkel Kawasaki Manual Tech di kawasan Jl. Kaliurang Ngaglik, Sleman. Ibnu Sambodo yang akrab di panggil Pak Dhe menuturkan lika-liku awal membangun mesin kencang 4-Tak. Tidak seperti mekanik umumnya yang meniru modifikasi dari pendahulu. Pak Dhe memulai dari nol. Maka dari itu Pak Dhe Ibnu sering disebut engine builder-nya bebek 4-Tak. Dimulai waktu kuliah di Universitas Gajah Mada jurusan elektronok tahun 1996 bersamaan awal ramainya produksi bebek 4tak. Berbekal kikir dan gerinda ia mengawali dengan memapas noken as atau kem. Pemikirannya waktu itu bagaimana caranya supaya klep masuk dan buang bisa membuka lebih lama agar bahan bakar yang masuk lebih banyak. “ Kikir sama gerinda bulat yang diputar pake tangan itu lho mas ” bukanya. Bisa dibayangkan ya, kem di kikir lalu di gerinda manual. Dengan gerinda listrik jaman sekarang saja belum tentu pas, apalagi manual? Tangan satunya memegang kem, tangan satunya memutar engkol gerinda. Wah ribetnya.. Itulah mengapa pak dhe Ibnu Sambodo menamakan Manual Tech. Teknologi manual yang nekat, mengandalkan kikir dan gerinda. Sekarang menangani mesin Supersport 600cc. Dari mana Pak dhe ini belajar?.. “ Saya ini sama sekali tidak pernah berguru kepada siapapun. Belajar sendiri, ” ungkap Pak Dhe yang tetep awet muda ini. Mungkin motor buat kuliah waktu itu yang jadi eksperimen. “Wah, motor saja nggak punya. Punya teman di kos-kosan yang buat percobaan,” cerita alumni SMA Negeri 3 Solo ini sambil tertawa. Jarang-jarang lho pak Dhe tertawa. Akhirnya tahun 2000 Manual Tech mulai diperhitungkan. Bersama Dimas “Kroechil” Sugiyarto berhasil menjadi juara nasional 4-Tak. ” Bengkel saya dulu masih di daerah Tamanan, Banguntapan, Bantul. Baru tahun 2005 pindah jalan Kaliurang,” ucapnya. Suzuki pun akhirnya mengontrak team yang di dirikan pakde ini menjadi Suzuki Manual Tech. Beberapa pembalap top pernah mengisi daftar pembalap Pak Dhe Ibnu. Sigit Avianto, Hendriansyah, Irwan Ardiansyah, Bima Aditya, Dedi Permadi, Ardy Satya dll. Motor pertama Ibnu Sambodo juara nasional tahun 2000 saat di tunggangi Dimas Kroechil. Awal 2009 secara mengejutkan Pak Dhe pindah haluan dari Suzuki ke Kawasaki. Di tahun ini pula ia memulai lagi dari nol. Merancang mesin underbone Kawasaki yang jarang sekali ada mekanik yang memakainya di road race Indonesia. Sanggup tiga besar di seri pertama Indoprix. Lalu setahun kemudian Kawasaki Manual Tech juara asia untuk pertama kalinya di Asia Road Racing tahun 2010. Sampai sekarang team Manual Tech selalu mengisi posisi tiga besar di kejuaraan tersebut. Keseriusan Pak Dhe bersama Manual Tech berbuntut kepercayaan Kawasaki Indonesia untuk turun di kelas yang lebih tinggi yaitu Supersport 600cc. Tantangan baru memecah kebosanan di balap nasional dan ajang Asia Road Racing. Dengan di bantu Kawasaki Jepang, lewat pembalap Katsuaki Fujiwara berhasil merebut juara asia kelas supersport 2011. Disela kesibukannya sekarang, Pak Dhe Ibnu juga membuka bengkel resmi Kawasaki dan kursus mekanik disana. “Untuk kursus mekanik saya di bantu assisten. Disini saya dibantu pak Danu,” tutur Pak Dhe. “Tidak saya batasi sampai kapan kursusnya. Pokoknya sampai merasa dia mampu membuat motor kencang,” kata Pak Dhe. Bersama Gupito Kresna pimpin klasemen sementara Asia Road Racing 2014. Bersama beberapa assistennya di Manual Tech, ia masih merancang motor Kawasaki Edge yang kembali bertaji di Indoprix dan Asia Road Racing. Itulah Ibnu Sambodo. Orang yang pertama kali meriset bebek 4tak Indonesia dibuat kencang untuk untuk road race. Penulis Hafid Foto Hafid
ibnu sambodo dan mekanik jepang