PengalamanMendaki Ke Kawah Ijen. "Semoga pendakian malam ini berjalan dengan sukses dan selamat kembali ke rumah," kata salah satu teman satu rombongan saat persiapan bersama sebelum mendaki Gunung Ijen. Jam tepat pukul 1 dinihari, semua rombongan sudah siap dengan jaket tebal, kupluk dan senter di tangannya. Biayatrip Kawah Ijen (updated September 2018): Tiket Kereta Api Lempuyangan (LPN) - Karangasem (KNE) Rp 94.000/orang Sewa Mobil & Supir 10 jam Rp 450.000/mobil. Bisa muat 4-6 orang. Tiket Masuk Kawah Ijen Rp 5000/orang. Local Guide Rp 200.000/grup. Rental Motor Rp75rb/24jam. Ojek Motor (Kayanya sekitar Rp 300rb utk pp) Kamimemutuskan untuk mengurangi rombongan, bawa satu mobil saja, dan dipilih orang2 yang berani mati *halah* hehehehe. Kami tetap berangkat ke ijen, dengan optional kalo ga bisa masuk ijen, ya sudah mlipir ke bromo atau pulau sempu. Toh, deket2 ini. Rencana awal berangkat sabtu pagi berubah menjadi jumat malam jam 23.00. Terletakpada dua kabupaten yaitu Bondowoso dan Banyuwangi tepatnya di wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Bondowoso Jawa Timur, Gunung Kawah Ijen (biasa disingkat menjadi Kawah Ijen) merupakan salah satu gunung aktif di Jawa Timur. Dengan ketinggian 2.443 mdpl dan kedalaman danau 200 m serta luas kawah mencapai 5.466 Hektar, Bagiwisatawan yang membawa mobil pribadi, kedua rute tersebut tidak ada bedanya, karena jika ditempuh dari Surabaya jaraknya hampir sama. Namun bagi wisatawan yang menggunakan angkutan umum, disarankan untuk memilih rute Banyuwangi, karena moda transportasi menuju Paltuding lebih lengkap dan lebih banyak. Jarak antara Paltuding ke Kawah wnGgIf. Perjalanan ke Kawah Ijen memberi banyak pembelajaran. Tentang keberuntungan, dan juga peringatan. Ternyata benar, traveling memang tak sekadar destinasi. Dekat maupun jauh, sederhana maupun mewah, saya rasa setiap perjalanan punya makna dan pelajarannya masing-masing. Sebuah perjalanan mengunjungi Kawah Ijen yang terletak di timur pulau Jawa, seakan mengajarkan saya untuk kembali tahu diri agar tak pernah sekalipun meremehkan alam. 1. Setiap Tempat Berbeda Punya Keistimewaan, Sekaligus Risikonya Masing-Masing Saya kira, mengunjungi Kawah Ijen, sama seperti mengunjungi gunung-gunung wisata lainnya. Sebut saja Gunung Merapi, wisata Kawah Putih, Gunung Tangkuban Perahu, puncak Sikunir, atau Gunung Bromo. Tak perlu effort berlebih menaiki setapak demi setapak jalan dengan wajah riang-gembira, sambil sesekali melakukan selfie-wefie-famfie, etc. Teman saya bahkan berkata, tak ada trekking yang berarti. “Cuma dua jam, kok. Habis itu, sampai.” Apalagi, bapak-bapak penjual kopi setempat juga mengatakan hal yang sama. “Ah, dekat itu, Mbak. Track-nya juga jelas.” Ingatan pernah beberapa kali menjamah gunung pun rupanya membuat saya menganggap setiap tempat sama. Tapi ternyata, segala anggapan remeh itu memadai biang kekacauan saat pendakian. Lima belas menit pertama, napas saya tersengal. Sinyal yang memberi pertanda, ada yang tak beres dengan tubuh. Saya rapatkan jaket tebal, pun juga sarung tangan serta kaus kaki yang membungkus erat badan. Saya berasumsi; palinglah karena suhu dingin. 2. Apa Pun Medannya, Persiapan Tetap Diperlukan Bau basah memenuhi udara. Gerimis membuat saya beserta rombongan lain khawatir. Akankah malam ini dingin, mengingat kami tak punya tempat bermalam lain, selain mobil elf dengan kursi yang jumlahnya pas-pasan? Namun rupanya, kekhawatiran segera bisa ditepis, sebab saya justru melega, sepasang kaus kaki dan sarung tangan yang saya bawa sekenanya, sebab dipersiapkan secara mendadak, justru tak butuh teman pelapis. Saya yang kadung meremehkan bahwa perjalanan ini pastilah berlangsung aman justru membuat kesalahan fatal setelahnya tak cukup tidur, tanpa sarapan, dan cuma menyantap semangkuk mie instan di malam hari. Belum lagi, saat perjalanan berangkat, kondisi badan rupanya enggan diajak kompromi. Melihat blue fire yang tersohor itu sedang memercik dengan indahnya—membuat khayalan saya mengawang ketika di perjalanan. Masalahnya, karena dadakan, saya belum sempat browsing—cek lokasi. Sementara sebentar-sebentar saya sibuk beristirahat ngos-ngosan, gerombolan bule di belakang saya menyusul, lalu dengan santainya mendaki sambil memakai kaus tanpa lengan. 3. Perjalanan Akan Mengenalkanmu Pada Beragam Tipe Asli Orang Kenali, Jangan Menghakimi Tak sabar, rombongan saya satu per satu mulai meninggalkan. Sebelum mendaki, kami memang dibagi ke dalam beberapa kelompok. Saya yang mendadak harus ke kamar mandi—apalagi dalam situasi toilet mengantre—pun harus rela ditinggalkan dan jadi rombongan terakhir. Namun belum habis masa 30 menit pertama, konsep rombong-merombong, kelompok-berkelompok, bubar sudah. Kami yang sebelumnya memang tak saling mengenal terpencar. Ada yang tak sabar lalu naik sendiri atau berdua. Ada yang tertinggal di belakang, semacam saya, ada pula yang jadi penyelamat dengan menunggu yang tertinggal, lalu naik bersama-sama. Saya sendiri pasrah. Toh saya juga tidak kenal-kenal amat. Beberapa teman—yang kebetulan adalah seorang pejalan—pernah berkata “kalau kamu ingin mengenal karakter asli orang, siapa orang itu sebenarnya, ajak dia naik gunung.” Sebuah ungkapan yang telanjur judgemental memang. Sebab, menurut saya, ada banyak sebab yang mengakibatkan seseorang harus berada dalam kondisi tersebut. Mungkin saja, mereka punya tenggat, semacam target waktu pencapaian demi menakhlukan diri sendiri. Mungkin saja, dalam diri mereka ada hasrat yang menggebu-gebu untuk sampai di puncak. Atau mungkin, kecepatan berjalan mereka ya, memang sudah dari sananya secepat itu. Maka saya pun ikhlas-ikhlas saja melihat satu per satu rombongan mulai meninggalkan. Malah, saya menganjurkan agar mereka meninggalkan saya, sebab sudah kepalang tak tega jika harus membiarkan mereka mengikuti saya. Tetapi dengan alon-alon asal kelakon, menapaklah saya satu-satu. Beberapa teman, yang saya kenal mendadak, dengan sabar menunggu saya. Ada pula yang menuntun, pelan-pelan. Akibatnya, saking tak enak-nya, sibuklah saya mengecek waktu. Sebentar-sebentar saya tanya jam, lalu segera panik begitu jam menunjuk angka empat pagi, padahal katanya baru separuh jalan. Jadilah sibuk saya meminta maaf, lalu terkadang mengusir para relawan baik hati sedari tadi sibuk menunggu untuk lebih dulu berjalan, melihat blue fire idaman yang katanya cuma ada dua tempat di dunia Islandia dan Banyuwangi, Indonesia. Antisipasi kalau-kalau, waktu tidak memungkinkan dan akhirnya mereka gagal sampai tepat waktu. 4. Apa pun Kondisinya, Selalu Ada Cara Untuk Membuat Diri Termotivasi Pukul lima kurang seperempat—makin paniklah saya. Orang yang bersama saya, tinggal satu orang. Sisanya menghilang. Tak lama, seorang pengangkut belerang berjalan sejajar. Iseng, saya bertanya tentang seberapa jauh perjalanan. “Wah, tinggal sebentar lagi kok, Mbak. Paling lima belas sampai setengah jam lagi,” katanya enteng. “Oh,” jawab saya pendek, sependek-pendeknya, lalu tiba-tiba merutuki kebodohan saya yang punya prinsip nggak lagi-lagi bertanya sama orang lokal. Jawabannya pasti “dekat”, “sebentar lagi”, padahal jauhnya bisa nggak ketulungan. Tetapi rasa pesimis saya mendadak kalah saat saya tanya bapak pengangkut belerang tentang bobot belerang yang biasanya ia bawa. “Ini cuma tiga puluh kilo, Mbak. Biasanya, bisa enam puluh sampai delapan puluh kilo,” katanya santai. Saya langsung kaget. Tiga puluh kilo itu setara bobot adik kecil saya dua tahun lalu. Dalam sehari, mereka bisa bolak-balik, naik-turun hingga 3-4 kali. Karenanya, saya pun termotivasi untuk berjalan cepat-cepat. Semakin cepat, semakin baik. 5. Terkadang, Apa yang Ingin Kita Capai Tak Selamanya Muncul Utuh di Depan Mata, Bila Tidak Ikhlaskanlah. Selalu Ada Sisi Baik yang Bisa Diambil dari Setiap Hal Kira-kira pukul setengah enam pagi, sampailah saya di puncak. Hawa dingin langsung menusuk kulit, karena rupanya angin bertiup kencang sekali. Saya yang semula melepas segala perlengkapan dingin mulai dari kupluk dan sarung tangan, buru-buru mengenakannya lagi. Dari kejauhan seorang teman menghampiri saya. Ia masuk dalam kloter pertama, sudah pasti sampai lebih dahulu. Tetapi dengan raut wajah kecewa ia melenyapkan antusiasme saya. “Blue fire-nya kecil banget, kayak api kompor.” “Oh, yasudahlah, mau gimana lagi?” Saya yang sudah lemas, makin lemas. Seorang teman menghibur. “Yasudah, kita bisa keliling-keliling dulu. Bagus banget, nih.” Sebuah kawah berwarna hijau-kebiruan terbentang luas di hadapan saya. Asap putih menyembul dari permukaannya. Orang bilang pakailah masker, belerangnya sangat menusuk. Tetapi, sedikit buntung di awal ternyata berbuah untung. Bau belerang yang menusuk ini tidak punya efek pada hidung saya yang banal, karena mampet sedari awal. Maka saya pun buru-buru sibuk naik undakan-undakan khas gunung yang mengitari saya, demi pemandangan indah dan berbeda dari ketinggian, sementara di sekeliling sibuk melakukan gerakan cepat mencopot masker saat berfoto, lalu buru-buru memakainya karena tidak tahan bau belerang. 6. Seberapapun Jauh Kamu Melangkah, Akan Selalu Ada Tangan-tangan Tak Terlihat yang Menjagamu Kira-kira pukul tujuh, saya memutuskan untuk turun. Pertama karena tidak tahan dingin. Kedua karena Matahari sudah cukup menyengat. Ketiga karena sudah puas. Rute turun, sama dengan rute naik. Hanya saja, saya cukup kaget saat tahu, jalur naik-turun ternyata tidak cukup luas, sementara jurang dalam dan lebar menganga di sebelah kiri. Rasa was-was kembali menyergap sebab saya jadi teringat, bahwa sejak pendakian, rupanya saya cenderung duduk istirahat di bebatuan atau gundukan kecil di bibir jurang. Kondisi gelap di awal pendakian membuat saya pikir perjalanan bakal aman-aman saja. Keberuntungan ke sekian hari ini. Cukup menyelamatkan bagi saya—pejalan super pemula yang lalai, merasa sudah cukup, lalu cenderung meremehkan. Bagaimana seandainya saya tidak hati-hati? Bagaimana jika di tengah jalan napas saya habis, di saat teman sekelompok justru meninggalkan? Semua pertanyaan itu membuat saya berpikir dan tersentil di tengah-tengah jalan turun. Dalam sebuah perjalanan naik dan turun gunung wisata yang sering kali terlihat remeh, dalam sebuah perjalanan hitungan dua-tiga jam, rupanya saya telah diingatkan. Semesta itu besar, ia luas dan tak berbatas. Sementara kita manusia, cuma berdiri kecil di tengah-tengahnya. Seperti debu yang bisa hilang dalam satu kibasan tangan, siapa kita berani merusak, lalu menantang angkuh seolah jadi yang paling kuat? 7. Alam Indonesia Memang Indah, Ironis Bila Justru Orang Luar yang Peduli Akan Hal Itu Foto oleh Claire Andre Peringatan selanjutnya muncul. Belum lama berjalan, pundak orang yang berjalan sejajar dengan saya, ditepuk dari belakangnya. Seorang pria bule, dengan nada sedikit marah, mencoba mengingatkan. Rupanya, orang itu baru membuang begitu saja satu botol air mineral yang sudah kosong isinya ke satu sisi jalan. Bule itu marah, lalu menyuruhnya memungut kembali sampahnya. Suatu hal yang cukup memalukan, mengingat orang lokal baru saja diingatkan oleh orang luar yang notabene, tidak memiliki suatu hubungan pun dengan alam Indonesia. Saya menengok. Orang itu berbicara kepada salah satu temannya ia pikir itu tempat sampah, sebab ada sampah serupa di sana. Tak jauh dari tempat ia membuang sampah, beberapa mural bertulis nama, inisial, hingga ucapan selamat menghiasi batu-batu besar di sisi kanan jalan. Saya membayangkan, si pria bule pastilah mengamuk jika melihat ini. Ya, ironis memang. Pria bule. Bukan orang Indonesia. 8. Jangan Meremehkan Alam Naik susah, turun pun susah. Sama seperti kemiringan tanah lumayan curam yang sanggup membuat detak jantung lebih cepat dan napas ngos-ngosan, turun dari Ijen tak bisa dianggap remeh. Seperti jalur naik yang terus menerus menanjak, bisa dibayangkan bagaimana jalur turunnya. Sebuah jalan setapak, di mana pengunjung harus benar-benar melewati turunan dari awal hingga akhir. Tak jarang, karena merasa lelah sekaligus menyiasati rasa lelah karena kaki jelas menjadi tumpuan badan, saya melihat banyak orang memilih berlari dengan risiko menabrak pohon atau justru jatuh berguling karena tidak mampu “ngerem”. Alhasil, kurang lebih dua jam perjalanan turun, telapak kaki, betis, dan lutut pun dibuat nyeri. Belum lagi panas menyengat yang rasa-rasanya membakar wajah. *** Sekitar pukul sembilan malam, akhirnya elf yang saya tumpangi sampai di rumah. Sehabis mandi dan bersih-bersih, saya menenggak satu tablet obat flu lalu tidur sepuasnya. Percayalah, dua hari setelahnya saya juga terpaksa beristirahat karena sakit dan menunda niat pelesiran saya sekian jenak. Kapok? Tentu saja tidak. Tapi yang jelas, saya akan persiapan dengan baik, dan jauh lebih berhati-hati di perjalanan berikutnya. *Tambahan Setelah agak sehat, sebetulnya saya sangat penasaran mengapa saya tidak bisa melihat blue fire yang sempurna. Setelah googling dan bertanya sana-sini, barulah saya mengerti, blue fire hanya bisa dilihat di malam hari, di mana pengunjung seharusnya sudah mendaki sejak pukul WIB. Tidak disarankan pula mengunjungi Ijen saat musim penghujan, selain nyalanya lebih terang saat musim kemarau, juga cukup rawan karena Kawah Ijen kerap kali mengelurkan gas beracun saat musim penghujan. Setelah mengetahui informasi ini, harus diakui saya sedikit menyesal karena mendadak memutuskan ikut trip tanpa persiapan. Blunder yang ke-sekian kalinya. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting, selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Toh, pergi ke suatu tempat bukan hanya tentang mengeksplorasi yang indah-indah saja, bukan? REKOMENDASI ARTIKEL KEREN PALING BARU Cara ke Kawah Ijen dari Jakarta, Foto/Unsplash/Maksym IvashchenkoKawah Ijen merupakan destinasi wisata yang terkenal dan populer di Indonesia. Banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi tempat ini, bahkan orang Jakarta juga banyak yang berencana untuk mengunjungi wisata ini. Bagaimana cara ke Kawah Ijen dari Jakarta menggunakan kendaraan pribadi? simak wisatawan dari luar kota yang memiliki rencana untuk mengunjungi Kawah Ijen. Keindahan alam yang alami dan suasana yang sejuk membuat tempat wisata ini tidak pernah sepi pengunjung. Cara ke Kawah Ijen dari Jakarta Cara ke Kawah Ijen dari Jakarta , Foto/Unsplash/Andiko BaskoroDikutip dari laman resmi Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian mdpl dan terletak berdampingan dengan Gunung informasi mengenai cara ke Kawah Ijen dari Jakarta yang wajib kamu ketahui sebelum berwisataCara ke Kawah Ijen dengan Kendaraan Pribadi Banyak dari kalian yang ingin mengunjungi wisata menggunakan kendaraan pribadi, karena lebih banyak waktu mengorol bersama keluarga dan bersantai di perjalanan. Inilah cara ke Kawah Ijen dengan kendaraan pribadiAmbil arah barat laut di Jalan Sultan Agung menuju Jalan Minangkabau Barat sekitar 700 meter, gunakan lajur tengah untuk putar balik 700 meter kemudian belok kanan ke Jl. Minangkabau 500 meter, belok kiri ke Jalan Padang Panjang melewati Soto Kudus Garang Asam di kiri jalan sejauh 110 meter. Jika sudah, belok kanan ke Jalan Dr. Saharjo melewati Masjid Baitur Rahman. 3,6 kilometer belok kiri ke Jalan Letjen MT Haryono melewati Direktorat Lalu Lintas Polda Metropolitan Jakarta itu gunakan lajur kedua dari kanan untuk menggunakan jalan ke Jl. Tol Cawang Grogol/ Jl. Tol Dalam Kota sejauh 400 meter sampai ke Jl. Tol Cawang Grogol/JI. Tol Dalam Kota A. Ambil terus lajur kanan untuk melanjutkan di Jl. Tol Cawang Grogol A sampai jalan keluar menuju JI. Layang Sheikh Mohammed Bin menuju Jl. Tol Jakarta - Cikampek sampai dengan Tol Cikopo - Palimanan, kemudian ambil arah Jl. Tol Jatingaleh-Krapyak A Jalan tol 7,5 kilometer Gunakan lajur kanan untuk mengambil jalan keluar menuju Srondol/Ungaran/Solo/ jalan keluar tersebut, ambil lajur menuju ke Jl. Tol Banyumanik/JI. Tol Srondol Jatingaleh/Jl. Tol Tembalang Banyumanik. Ambil jalan keluar menuju Ungaran/Bawen/Solo/Yogya, terus kanan supaya tetap di Jl. Tol Mojokerto - Kertosono kemudian ambil jalan keluar menuju Gunungsari/ tetap di kanan di pertigaan untuk terus menuju Jl. Raya Pantura/JI. Tol Surabaya - Gempol/Jl. Tol Surabaya - Porong. Ambil jalan keluar Gempol - Pasuruan menuju Bangit. Tetap di kanan di pertigaan, ikuti rambu ke Probolinggo/Situbondo. Belok kanan ke Jl. Probolinggo - Wonorejo/Jl. Raya Leces kemudian 500 meter selanjutnya belok kanan sejauh 1,6 kilometer dan belok kiri 1 kilometer lalu belok kanan lagi menuju Jl. Ronggojalu. 5,8 kilometer kemudian belok kanan ke Jl. Raya Dringu/Jl. Raya Panglima Sudirman/Jl. Raya arah ke Jl. Raya Wringin Lewati Bap Bin Ali Parfume kemudian Belok kanan ke Jl. Kawah Ijen 2,3 kilometer. Belok kanan untuk tetap di Jl. Kawah Ijen. Ikuti jalan hingga sampai ke wilayah kawah Ijen. Demikian informasi cara ke Kawah Ijen dari Jakarta dengan kendaraan pribadi. Selamat berlibur dan hati-hati! NANDA Bali lebih dari sekadar pantai indah dan liburan santai. Bagi para pencinta tantangan, Bali juga menjadi titik awal petualangan ke berbagai lokasi menarik. Misalnya saja, ke Kawah Ijen, kompleks gunung api yang mengeluarkan gas sulfur dan api biru dari retakan di aktivitas ini, anda bisa mendaki Ijen dengan mudah. Paket yang anda pesan sudah termasuk sejumlah besar kebutuhan perjalanan, termasuk pemandu, penjemputan dari hotel, biaya masuk, dan izin cukup membawa peralatan pribadi, makanan, dan bersiaplah terpukau melihat pesona api biru yang abadi. Paket ini pun sudah termasuk kunjungan ke perkebunan kopi dan area air terjun, tempat anda bersantai sebelum pulang. Saksikan fenomena unik selama liburan anda ke Bali dan terkagumlah oleh api biru Ijen! Pesan pengalaman ini via Klook dan bersiaplah menikmati hiking yang mudah, bebas stres! Sementara pesona api biru manjakan mata anda kala malam, indahnya kawah Ijen memancar kala siang Jadilah saksi keindahan alam yang belum pernah anda lihat sebelumnya dalam trip ini! Visit Banyumala Waterfall if you book Ijen with sightseeing in Bali package Stop by to witness the beauty of Ulun Danu Beratan Temple as a complimentary when you book Ijen with sightseeing in Bali package Spot the beauty of North Bali mountain and take some photos if you book Ijen with sightseeing in Bali package Spend an overnight stay at a homestay with a homey and comfortable vibes Enjoy resting in this comfortable homestay before you embark on Ijen hiking in the following day The accommodation comes with a garden The bedroom of your homestay/accommodation if you book the 3D2N package. This photo is for reference only and subject to availability Ijen Crater with its breathtaking view! Have a chance to visit Tumpak Sewu Waterfall if you book the 3D2N package! Tumpak Sewu Waterfall is recognized as one of the most stunning waterfalls in Indonesia - Kawah Ijen merupakan destinasi wisata di Indonesia yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Kawah Ijen terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Secara geografi, Kawah Ijen terletak di koordinat 8,058 LS dan 114,241 BT di bagian utara berbatasan dengan Sungai Banyu Linu dan batas sebelah timur adalah lereng Gunung Ijen berada di kompleks Gunung Ijen yang mempunyai ketinggian meter di atas permukaan laut. Dengan lokasi yang cukup tinggi, suhu udara mencapai 13 derajat celcius. Bahkan pada musim-musim tertentu, suhunya bisa mencapai 0 derajat celsius. Gunung Ijen telah meletus beberapa kali, yaitu pada 1796, 1817, dan 1936. Pada 2011 hingga 2012, gunung ini ditutup sementara waktu karena mengeluarkan gas beracun yang membahayakan juga Akhirnya Wisata Kawah Ijen Dibuka Setelah 2 Bulan Tutup Proses Terjadinya Blue Fire Blue fire yang terdapat di kawah Ijen merupakan api biru yang langka, hanya ada dua jenis api ini di dunia. Setiap pagi Danau Kawah Ijen berwarna hijau tosca kebiruan dengan cahaya matahari berwarna keemasan memantul dari permukaan kawah. Kilau biru yang terdapat di kawah Ijen adalah gas hasil reaksi pembakaran dari senyawa belerang. Gas hasil reaksi ketika senyawa seperti belerang bercampur dengan oksigen dalamsuhu tinggi maka ada rekasi pembakaran. Panas terlepas dan senyawa kimia yang baru tercipta, misalnya sulfur dioksida. Energi yang barasal dari reaksi pembakaran meningkatkan elektron di atom menjadi semakin aktif.

ke kawah ijen dengan mobil pribadi